Friday, August 3, 2012

[Pengalaman] Pamit dan Pesan untuk Perjalanan


Rabu, 1 Agustus 2012

Terima kasih banyak kepada:

Bapak Ir. Yudi Gondokaryono, M.Sc, Ph.D dan Bapak Ir. Achmad Fuad Masud, M.Eng.



Pukul 10.00 WIB saya sudah turun dari angkot Cicaheum-Ledeng di depan gerbang kampus jalan Taman Sari (ketahuan deh mangkir kerja hehe). Perasaan saya sedikit campur aduk. Rasanya baru kemarin datang ke kampus dengan tas besar di punggung, plastik besar di tangan berisi draft tugas akhir untuk diperiksa pembimbing. Tapi itu sudah setahun yang lalu. Tahun ini saya dapat kado yang sangat besaaaarrr! Sebentar lagi akan lanjut studi lagi ke jenjang berikutnya. Jadi, hari ini datang untuk pamitan langsung kepada dua dosen yang dulu mengajar saya, dan sering sekali saya ganggu untuk meminta recommendation letter untuk pendaftaran sekolah, hehehe :)


Kuliah di luar negeri awalnya sedangkal dan semenakutkan in buat saya: packing banyak barang, pamitan nangis-nangis sama keluarga dan teman-teman, duduk berbelas jam di pesawat, sampai di kota tujuan, beres-beres barang, terus belajar belajar belajar sampai lulus dapat gelar. Tapi kalau sudah berdiskusi dengan orang yang berpengalaman, ternyata jadi sedalam dan semenyenangkan apa yang saya dengarkan.

Homesick 

Merupakan penyakit yang jauh lebih parah dibandingkan menghadapi mata kuliah yang akan dipelajari. Tapi di sinilah kita belajar bagaimana me-manage perasaan dan logika kita untuk menjadi pribadi yang dewasa. Apalagi pindah dari kota yang riuh-ramai (di Bandung dari lahir sampai lulus kuliah, lalu 1 tahun Bekasi-Cikarang bekerja di kawasan industri) ke kota kecil yang penduduknya sekitar 22.000 orang, dan tidak ada mall di sana. Bersyukurlah saat ini kita tinggal di era telekomunikasi yang cukup canggih. Pasang kabel internet ke laptop, buka social media network, langsung kita lihat wajah Papa-Mama-Kakak-Keponakan-Saudara lewat video-call secara real-time, atau berbicara langsung dengan mereka melalui voice-call. Komunikasi semudah dan semurah itu. Jadi, homesick jaman sekarang ini sudah tidak relevan lagi untuk dijadikan hambatan psikis seorang mahasiswa yang merantau jauh ke luar negeri.

Perbedaan Kewarganegaraan

Ketika masuk ke perguruan tinggi negeri, bagi saya merupakan salah satu culture-shock-event dalam hidup. Mulai jenjang Taman Kanak-Kanak sampai SMA, saya sekolah di sekolah swasta Katolik. Sehingga yang saya lihat adalah hampir semuanya teman-teman seiman, dan siswa luar kota juga tidak signifikan banyak jumlahnya. Di dunia kuliah semua berubah. Semua berbahasa Indonesia dengan logat aslinya, beribadah menurut agama dan kebiasaan tradisinya masing-masing. Tapi kuliah di luar negeri, bahasapun bisa jadi kendala. Sisi positifnya: improve your English by talking with new people everyday. Actually, we have to improve the nation language too (oh no, it's sooo hard >_< ).

Point berikutnya yang penting menurut dosen adalah: Perilaku. Bayangkan dalam satu keluarga saja kita bisa bertengkar dengan saudara kandung, apalagi dengan orang yang tinggal beratus kilometer jauhnya, dengan kondisi alam, iklim, tradisi yang jauuuuh berbeda. Akan lebih banyak lagi faktor yang bisa mencetuskan percekcokan. Lantas apa sisi positifnya? Yang muncul di pikiran saya pertama kali adalah belajarlah jadi orang yang sedikit acuh dan individualis. Dan, itu adalah pikiran saya yang berumur 23 tahun. Jangan cari masalah atau menimbulkan masalah, uruslah urusan sendiri.



Lalu apa pendapat dosen tentang hal ini? Point ini sangat penting. Kita bisa saling mengetahui karakteristik setiap negara. Kebiasaan dan perilaku bersikap dan berkomunikasi akan membawa habit dari setiap negara. Di sinilah sebenarnya kita juga menunjukkan karakteristik yang kita miliki sebagai orang Indonesia (ok, terdengar mulai nasionalis tinggi). Posisi kita sebagai mahasiswa, jadi biarlah dosen dan profesor yang akan memberikan nilai akhirnya. Setelah mendengar wejangan ini, cita-cita saya bukan hanya bisa lulus dengan nilai baik, tapi bisa meninggalkan kesan baik sebagai mahasiswa INDONESIA kepada pengajar saya nantinya. 

Kuliah, Belajar, Tidur, Kuliah, Belajar, Tidur (Pola Rutinitas)

Itulah pola yang terbayangkan oleh saya selama ini. Menurut sang ahli (baca: dosen), banyak aspek selain kuliah yang harusnya kita pelajari selama kita merantau di negeri orang. Perbedaan kebudayaan yang begituuu banyak, seharusnya menambah banyak wawasan yang akan kita peroleh. 10 warga negara lain yang kita temui, maka berusahalah untuk dapat bergabung ke dalam 10 komunitas tersebut. Bukan hanya jalan-jalan ke banyak tempat baru yang bisa membuka wawasan. Tapi komunikasi dengan semua orang yang ada di lingkungan kita juga penting untuk membuka wawasan, dan lebih jauh lagi: relasi.

Belajar Mendokumentasikan Sesuatu dengan Sebaik-baiknya

Baru saat ini saya mengerti kenapa pembimbing TA saya waktu dulu selalu menekankan pentingnya dapat mengkomunikasikan hasil kerja dengan baik, melalui media power point, tulisan di kertas, maupun laporan formal. Sebelum maju sidang, hampir empat kali saya diminta merevisi laporan. Berdasarkan curhatan teman yang sudah merantau dari setahun yang lalu, revisi laporan adalah hal yang cukup memusingkan dan melelahkan, dan terjadi berulang ketika menyerahkan laporan kepada profesor.

Menulis dengan tepat, jelas, dan padat tidak semudah yang dibayangkan. Perlu waktu untuk menumbuhkan kemampuan tersebut, terlebih apabila kita menulis dalam bahasa asing. (Pada titik ini tiba-tiba saya sangat mencintai bahasa Indonesia). Salah satu cara yang saya tempuh untuk melatih cara berkomunikasi adalah dengan membuat blog ini :) Menulis dengan bahasa yang baik tapi asyik dan menyenangkan ternyata sulit -_-" Yang cukup disayangkan adalah bagaimana pelajaran bahasa kita di negeri kita sendiri sering dinomorsekiankan (bukan lagi dinomorduakan). Jangan pernah meremehkan bahasa, karena dari bahasalah sebenarnya perilaku kita terbaca oleh orang lain.

Akankah kembali ke tanah air setelah selesai sekolah? 

Point ini termasuk point yang krusial. Banyak orang yang mengkritik mahasiswa Indonesia yang berkarir di luar negeri, dan tidak kembali ke tanah air. Beberapa stasiun TV swasta juga pernah menayangkan talk-show dengan orang Indonesia yang kuliah dan berkarir di luar negeri. Ternyata gelar yang didapat susah payah di perantauan belum tentu dapat diterima oleh negeri kita sendiri. Bisa jadi teknologinya belum ada, industrinya juga belum membutuhkan tenaga ahli bidang tersebut. 

Pesan yang dosen saya berikan ini sangat sangat sangat membuka pandangan saya: "Pulanglah jika memang sudah ingin pulang. Mendapat gelar Master dan Doktor dari luar, lalu langsung kembali ke sini bukan pilihan yang bijaksana sebenarnya kalau tujuannya ingin ikut membangun. Cobalah kerja, masuk industri di sana, lihat perilaku bangsa yang maju bekerja, apa yang harus kita ikuti. Bukan hanya ilmu yang harus kita bawa kembali ke sini untuk kita teruskan."

Gelar, Karir, Kesuksesan, (jangan lupa) Keluarga

Setelah sukses dapat gelar S2, banyak pilihan untuk ke tahap selanjutnya. Melanjutkan ke program doktoral, bekerja ke industri, atau bekerja ke perusahan lain yang diimpikan. Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah kita makhluk sosial yang membutuhkan seseorang untuk berbagi. "Ada saatnya kita dalam situasi di mana kita membutuhkan dampingan seseorang yang sangat kita percaya." Dari perkataan dosen, saya menangkap bahwa hal ini sangat masuk akal. Saat masih muda seperti sekarang ini, banyak orang yang selalu siap di samping kita untuk mendengarkan celotehan dan gerutu kita. Teman gank, kakak, adik, bahkan orang tua. Tapi pada saatnya nanti kita memasuki tahap dewasa, teman gank sudah memiliki keluarga sendiri, begitu juga Kakak dan Adik. Orang tua pun semakin tua untuk dapat menampung semua keluh kesah kita, lebih-lebih keluh kesah kita dapat menjadi beban bagi orang tua.

"Keberhasilan kita ini sebenarnya bisa tercapai karena kita ini berasal dari lingkungan keluarga yang 'berhasil'. Bukan hanya dalam hal materi, tapi juga dalam hal kehangatan, kebersamaan, dan juga  kasih sayang."



No comments:

Post a Comment

[Pengalaman] Langkah Selanjutnya

Aneh rasanya ketika satu pengalaman memberikan dampak yang begitu besar terhadap diri saya. Otak saya sebagai insinyur yang terlatih untuk...