Wednesday, July 4, 2018

[Pengalaman] Langkah Selanjutnya


Aneh rasanya ketika satu pengalaman memberikan dampak yang begitu besar terhadap diri saya. Otak saya sebagai insinyur yang terlatih untuk menelaah suatu masalah sampai ke jeroannya, dan berusaha memahami apa duduk perkaranya, dan mengapa ketika waktu sudah berjalan hampir satu setengah tahun, saya masih belum seratus persen menemukan jawaban.



Berpuluh-puluh macam motivasi dari video, buku, atau hanya sekedar quotes di Instagram, YouTube, Facebook, saya cari setiap harinya untuk membantu saya merasa lebih baik. Intinya satu: saya ingin bisa menerima apa yang terjadi dan menjalani hidup saya ke depannya tanpa melihat ke belakang dan terbebani oleh kepahitan itu. Sayangnya... ya, satu setengah tahun, dan saya masih ada di posisi yang sama. Posisi di mana saya masih merasa sangat kecewa. Sebentar, ada sih perubahannya, tahun lalu saya menangisi semuanya dan menyalahkan diri saya sendiri. Tapi sekarang ini saya tidak lagi menangis, melainkan marah dan menyalahkan orang lain. Ya, ada perubahaan, tapi itu pun bukan sesuatu yang baik.

Akhirnya saya menyikapinya dengan memutuskan kontak dengan orang yang saya dakwa bersalah, juga semua orang yang berhubungan dengannya. Bukan berarti saya ingin jadi manusia asosial. Sederhana saja, berkomunikasi dengan orang yang secara tidak langsung mengingatkan saya dengan terdakwa, membuat emosi saya meluap-luap.

Apakah ini terdengar gila atau tidak normal? Jangan ragu untuk menjawab, ya, karena saya pun kerap kali berpikir demikian. Mengapa kejadian ini begitu membuat saya terpuruk dan berhasil mengubah saya menjadi pribadi yang begitu berbeda? Mengapa kejadian ini sukses memporak-porandakan impian yang saya punya dan nilai-nilai yang dulu saya percaya? Apakah ini karena terdakwa berhasil memanipulasi saya dan saya terlalu lemah untuk menangkalnya?

Atau... karena kami terlalu berbeda, datang dari dua dunia berbeda dan gagal untuk berkompromi. Sayangnya, saya terlalu memeras tenaga dan perasaan untuk berkompromi dengan hubungan itu. Sayang selanjutnya, tak ada timbal balik. Hubungan adalah komunikasi dua arah oleh dua pelaku. Hipotesa saya ketika itu, komunikasi baik dari satu arah akan mengubah hubungan jadi lebih baik. Sayangnya lagi, hipotesa ini salah. Total.


Untuk keluarga dan sahabat—keluarga yang tidak satu ibu dan satu ayah, terima kasih atas pelukan dan dukungan yang tidak pernah putus. Kalian selalu bilang, segala sesuatu terjadi karena suatu alasan. Kali ini spesialnya, banyak alasan. Alasan untuk saya bertumbuh. Untuk  "sahabat" lainnya, terima kasih untuk bilang, "cukup sudah keluh kesahmu, terima dan move on. " Kata-kata itu buat saya mengerti kadang ada orang yang tidak mencoba untuk menempatkan diri di posisi lawan bicaranya yang sedang butuh telinga.

Satu paragraf penutup: dari berpuluh-puluh video dan cerita inspiratif yang saya lalui selama stu setengah tahun ini, saya belajar bahwa orang sukses—bukan hanya untuk dapat jabatan, tapi untuk mengatasi kekelaman hidupnya, adalah orang yang berani mengakui bahwa dirinya gagal dan kecewa. Bahwa juga dirinya marah dan tidak menerima keadaan. Saya mencoba mengikuti jalan itu. Mungkin ini jadi langkah awal untuk berubah dan beranjak dari posisi yang sama setelah satu setengah tahun.







Monday, June 11, 2018

[Pengalaman] Pengharapan, Keyakinan, dan Cinta


"Hope, Faith, Love" ciptaan  Eric Whitacre.
Kenapa tiga kata kerja ini yang dipilih oleh sang komponis?

Hope - Pengharapan. Bayangkan hidup tanpa punya harapan, keinginan, cita-cita. Pengharapan itu tidak harus yang mahal dan besar seperti travelling keliling dunia: pengen makan mie instan kuah hangat waktu cuaca dingin dan hujan lebat. Setelah harapan terpenuhi, perut kenyang, hati senang :) Naik level: apa yang mau dicapai setelah lulus kuliah misalnya. Kerja sebagai karyawan di kantor. Setelah itu, berlanjut keinginan untuk dapat tanggung jawab lebih besar di tempat kerja, jadi pemimpin, dan seterusnya.


Indah ya punya pengharapan? Hidup tidak akan membosankan, karena selalu ada yang kita cari. Selalu ada yang kita coba

Faith - Keyakinan. Bukan hanya keyakinan pada satu agama atau kepercayaan. Yakin akan mimpi, tujuan yang dicapai. Kenapa kita butuh keyakinan? Ada saatnya, kita terjebak, tidak bisa gerak kiri-kanan-depan-belakang, atau terlalu kelelahan. Tidak ada lagi barang fisik yang bisa meyakinkan kalau kita bisa maju lagi. Saat itulah apa yang kita yakini ambil peranan. Keyakinan itu tidak bisa dipegang, tidak bisa dirasakan, tapi dia ada. Buat saya, keyakinan itu yang saya rasakan memeluk dan mengangkat saya lagi untuk siap maju. 



Indahnya punya keyakinan? Mau sebagaimana pun kita terluka atau babak-belur, tetap ada alasan untuk kita bangun lagi dari keterpurukan.

Love - Cinta. Cinta keluarga, cinta pasangan, cinta gadget, cinta mobil kesayangan, cinta binatang peliharan... sudahkah mencintai diri sendiri? Karena tanpa mencintai diri sendiri, apapun yang kita punya tidak pernah akan memenuhi keinginan kita. Mencintai apa yang kita punya, entah itu baik atau buruk, kalau kita sudah mencintai diri sendiri, tak akan lagi keburukan jadi kesedihan. 


Indahnya punya cinta? Tanpa cinta, tidak ada mengasihi dan memaafkan. Tanpa cinta, tidak ada kesabaran.

9 tahun berlalu semenjak saya mengenal lagu "Hope, Faith, Love", akhirnya saya mengerti kenapa tiga kata saja sudah sangat cukup untuk menjadi sebuah lagu.

Monday, February 5, 2018

[Pengalaman] Refleksi 2017

Membuat rencana liburan atau proyek kerja beda halnya dengan membuat perubahan dalam diri. Perubahan yang contohnya adalah mengubah rasa marah jadi pernyataan maaf yang tulus; mengubah rencana dalam otak jadi tindakan nyata; mengubah rasa kecewa jadi menerima dengan lapang dada; mengubah rasa iri menjadi rasa syukur atas apa yang aku miliki; dan yang paling besar dampaknya adalah menerima bahwa kenyataan tidak selalu sesuai mimpi dan apa yang direncanakan.

Parahnya, semua rasa negatif ini dengan mudah menguasai hidupku lahir dan batin. Persepsi bahwa hidup tidaklah adil, bahwa hidup ini terlalu sulit untuk dijalani, bahwa hidup memilih untuk mencintai beberapa orang, dan membenci beberapa orang lain. Dan aku termasuk orang yang dibencinya. Negativisme ini berhasil menjajah seluruh sel di tubuh.

Lantas... apa yang harus aku lakukan untuk sedikit demi sedikit menghapus negativisme ini? Aku sadar, menghilangkannya dalam semalam adalah mustahil. Apa iya semua pikiran buruk ini muncul dari diriku sendiri? Apa pribadiku aku memburuk di dalam, sehingga tak ada lagi hal baik yang bisa muncul dari dalam? Logikanya, kalau semua dari dalam baik, tak peduli hal buruk apa yang terjadi di luar. Hal yang baik bisa menangkal apapun yang buruk.

Beratus-ratus quotes di social media, buku psikologi, video motivasi, konsultasi dengan orang-orang dewasa, membuatku mengerti: aku terluka.

"God create a clean heart for me and renew a steadfast spirit within me. - Psalm 51:10"

Salahkan orang lain saja? Ibarat orang berdiri, lalu ia terjatuh karena terdorong atau didorong orang lain, tak sepantasnya menimpalkan kesalahan padanya. Kenapa aku tak berdiri dengan kaki lebih kuat menjejak tanah; kenapa tak aku tangkis dorongannya ketika dorongan itu datang; kenapa aku biarkan zona amanku terancam...

Protect yourself bukan hanya melindungi diri dari ancaman kejahatan atau pelecehan seksual. Lebih dari itu: lindungi diri supaya tidak tersakiti. Ketika aku tahu bahwa lingkungan hidupku sudah menjadi racun dan keburukan untuk hidupku, kenapa aku tetap di sana? 

"When you can't control what's happening, challenge yourself to control the way you respond to it. That is where your power is"

Nyatanya, aku adalah nakhoda kapal kehidupanku sendiri. Tetap mengarungi ombak tinggi menakutkan, menantang arah mata angin, atau kembali sejenak ke pantai untuk beristirahat.

"New experiences will present themselves when you change your way of thinking"

Keputusanku untuk berlayar ke arah manapun itu. Ketika aku sudah kelelahan karena aku berlayar mundur karena melawan arah angin, aku berdoa agar arah angin berubah mendorongku ke depan. Ketika ombam tinggi dan angin kencang hampir mengahancurkan si kapal, aku berdoa supaya semua menjadi tenang.

Lalu aku sadar, doaku tak selalu mendapat jawaban langsung. Sayangnya. Tuhan mendengar, aku tahu dan percaya itu. 

Ketika doaku belum terjawab, aku berusaha mengubah haluan; haluan yang sebenarnya tak sejalan lagi dengan kata hatiku yang paling dalam. Aku jadi mengerti apa yang orang bilang tentang: "Ikuti kata hati". Ketika pikiran dan perbuatan aku harus melawan kata hati, setiap saat, aku  tidak mempunyai lagi pengertian benar tentang "berusaha". Aku hiang keyakinan bahwa haluan ini akan kucapai; malah yakin bahwa haluan ini hanya akan membuat aku semakin tersesat, membuat aku makin buta akan apa mauku.

Akhirnya kuputuskan untuk menyerah pada ombak dan angin, kembali ke pantai. Aku butuh waktu dan tempat untuk mengolah semua yang terjadi. Bukan lari dan meninggalkan semua tak terselesaikan, tapi aku mau mengerti semuanya.

"Don't bury your head in the sand whe troubles surround, stand tall ans face the problem in the light of understanding."

Ketika aku kembali ke pantai, kapal dan juga fisik ini tak lagi sama seperti ketika aku mulai berlayar. Beberapa bagian kapal hancur. Masih bisa kuperbaiki. Tak lagi jadi sama seperti sedia kala. Tapi aku bisa memiliki bentuk kapal yang aku inginkan. Memang tak perlu sama. Sedikit banyak aku belajar apa yang bisa aku perkuat untuk perjalanan selanjutnya. Juga bekal apa yang harus aku bawa.

"You're gonna survive. Good things are gonna start to happen again. And one day, you may look back and even this will not be such a bad thing."

Semua ini adalah satu bab kehidupan yang harus  aku tempuh, dan harus aku selesaikan. Ada hal sangat baik pada akhirnya yang jadi hadiah terindah untukku: aku mengenal diriku sepenuhnya.

"If God answers your prayer, He is increasing your faith.
If He delays,He is increasing your patience.

If He does not answer your prayer, He is preparing the brst for you. - Mother Teresa"

Thursday, December 14, 2017

[Tukar Pikiran] Mengikuti Intuisi

Pagi ini, senang sekali rasanya dapat sapaan dari adik kelas yang sudah lama sekali tidak bertemu lewat whatsapp. Dari sapaan, akhirnya berlanjut menjadi cerita mengenai keinginan sang adik pindah departemen di tempat dia bekerja saat ini. Keinginannya adalah menjadi seorang spesialisasi, bisa menjadi pusat informasi ketika kerabat kerja lain memiliki pertanyaan. Saya juga mau begitu, Dik.

Pikiran selanjutnya: kalau keinginan pindah itu karena pelarian, kapan bisa jadi spesialis? Perasaan iri ini apalagi, sangat mengganggu; melihat kerabat lain bisa jadi spesialis.

Tulisan ini bukan dengan header [Experience], tapi [Tukar Pikiran]. Karena saya sendiri sedang dalam proses mencari jalan, mencari tahu apa yang saya mau.

Obrolan singkat pagi ini terbawa selama bekerja hari ini. Saya sudah bekerja di tempat bekerja saat ini selama kurang lebih 2,5 tahun. Posisi saya diadakan oleh management karena mereka membutuhkan backup untuk membantu senior saya mengelola suatu product-ecosystem. Sedikit jualan  tentang pekerjaan saya: untuk bisa berkomunikasi dengan produk chip digital yang juga diproduksi oleh perusahaan, bukan hanya satu software produk yang digunakan oleh customer, tapi beberapa bisa beberapa macam software , juga ada beberapa perangkat hardware tambahan yang dibutuhkan. Sebelum saya bergabung, senior saya bekerja sendirian untuk mengelola semuanya. Setelah saya bergabung, porsi kerjaan yang sedemikian banyak dibagi kepada kami berdua.

Apakah benar-benar dibagi 50% - 50%? Setahun pertama saya bekerja di sana, saya merasa senior saya masih mengelola 100% dan tugas tambahan dia adalah memberikan saya tutorial. Kami duduk bersebelahan. Setiap ada kerabat kerja lain memiliki pertanyaan, mereka akan selalu berjalan menuju meja senior saya.

Suatu hari, senior saya ijin kerja karena sakit. Seorang kerabat kerja memiliki pertanyaan bersangkutan dengan masalah customer. Dan seperti biasa, kolega saya ini mencari senior saya. Akhirnya, saya, si pilihan kedua, adalah tujuannya. Keringat dingin mulai bercucuran. Biasanya walaupun saya harus melakukan suatu analisa masalah, senior saya ada di sana, sehingga saya punya tempat bertanya. Tapi tidak hari ini.

Dengan gugup, juga dengan kemampuan bahasa Jerman terbatas, saya berusaha mencatat setiap point yang dijelaskan. Setelah itu, dengan perasaan takut, saya mulai melakukan test dan berusaha menemukan apa penyebab masalahnya. 15 menit kemudian, saya tahu jawabannya. Segera saya berjalan menuju meja kerja kolega. Lagi, dengan bahasa Jerman terbatas bercampur Inggris (ditambah otak yang masih berpikir dalam bahasa Indonesia), saya menjelaskan analisa mengapa masalah itu ditemukan customer dan bagaimana solusinya.

Kolega saya tersenyum, "3 hari saya berusaha mencari tahu, dan expert ini menemukan dalam 15 menit."

Hari itu adalah dear-diary-moment. Hal kecil. Saya bilang itu berkat, blessing. Kalau saja masalahnya rumit dan saya sendiri tidak bisa menemukan solusinya, beda ceritanya, bukan? Karena itu saya bilang, itu berkat. Rejeki.

Setelah hari itu, apa saya benar-benar expert atau spesialis? Tidak. Masih ada hari di mana saya merasa gagal, karena mentok dengan analisa masalah berhari-hari. Masih ada hari di mana pekerjaan saya tidak sempurna atau malah salah, dan atasan menegur saya. Masih ada hari di mana saya benar-benar menangis karena pekerjaan terlambat untuk diselesaikan sehingga saya harus bekerja di akhir pekan, ujung-ujungnya saya merasa bodoh. Masih ada hari di mana saya bingung akan jadi apa saya, jika saya bertahan di tempat kerja ini lima tahun ke depan.

Ada satu istilah orang Jerman, vertraue / folge deinem bauchgefühl. Kalau diterjemahkan langsung ke bahasa Indonesia: percaya / ikutin rasa di perut. Bahasa Inggris:  trust follow your gut feeling.

Dalam hari terburuk dan tersulit sekalipun, selalu ada intuisi dalam diri saya yang menasehati saya, "Belum saatnya menyerah." atau "Jangan manja! Gitu aja nangis! Lanjutin kerjaannya!" Dan biasanya itu benar. Analisa ngawur saya: perut masih lah berhubungan sama otak, jadi gut feeling itu sebenarnya dipengaruhi juga oleh logika yang dihasilkan oleh otak.

Gut feeling yang saya punya saat ini: seorang spesialis sekalipun harus terus belajar dan terbuka dengan hal baru. Masih banyak yang bisa saya pelajari di sini, dan saya yakin saya bisa berkembang menjadi lebih baik lagi di tempat ini.

Kepada sang Adik, ini hanya tukar pikiran dari apa yang pernah saya alami. Proses mengikuti intuisi juga butuh kerja nyata, supaya kita melihat apa yang bisa kita lakukan, bagaimana kita mengembangkan kemampuan diri kita sendiri. Dan yang paling penting: jangan merendahkan kemampuan diri sendiri, beri kesempatan kepada diri kita untuk menghargai apa yang sudah kita capai.


Monday, December 11, 2017

[Pengalaman] Marah dan Kecewa Bukan Kegagalan

Entah kultur, atau pengertian saya yang salah selama ini. Sebelum hari kemarin, saya selalu merasa kemarahan dan kekecewaan adalah hal yang harus dihindari untuk menjaga wibawa. Mengampuni semua kesalahan dan memberi pengertian kepada segala hal adalah sesuatu yang hebat. Tidak lagi hari ini. Pengalaman hari kemarin memberi pandangan baru untuk saya jujur kepada diri saya sendiri.

Adalah seorang kawan yang memang pernah sangat mengecewakan saya di masa lalu. Saya pun menganggap diri saya ini sudah melalui masa kegalauan, menangis tengah malam, sampai mata saya yang cukup sipit ini menjadi semakin sipit. Dan semenjak itu, saya berusaha untuk tetap menjalin komunikasi dengan sang kawan. Hal yang terjadi kemarin sebenarnya adalah suatu canda yang orang normal harusnya tertawa dibuatnya, bukan membentak dan berteriak seperti yang saya lakukan. Candaannya hanya ngeles mengerjai saya. Kembali lagi, orang normal hanya akan tertawa dan menggelengkan kepala.

Tapi saya membentaknya. Saya rasa tetangga di sebelah juga bisa mendengar bentakan saya. Kurang lebih isi bentakan saya adalah, "Kamu kenapa memperlakukan saya seperti ini? Ini keterlaluan!"

Telepon itu langsung ditutup. Mulut saya mengatup dan saya benar-benar diam seperti patung beberapa saat. "Gua kenapa ya?" hanya pertanyaan saya kepada diri sendiri, yang bisa saya ulang-ulang di dalam kepala. Pembicaraan di telepon itu diawali dengan hal-hal kasual yang dua orang berteman biasa membicarakan.

Memori di dalam kepala saya berubah menjadi pita video, dan berputar balik kepada beberapa waktu lalu. Anehnya, hanya peristiwa yang sedih dan mengecewakan yang diputar. Saya pikir ini salah. Saya beranjak mengambil buku harian. Tulisan-tulisan yang mendukung saya untuk semakin marah tampak seperti dipertebal atau dalam format bold.

Selama ini, semua kemarahan dan kekecewaan, selalu saya usahakan tersebut dalam doa. Mengampuni dan menerima adalah ajaran baik yang harus saya praktekan. Kegagalan untuk mengampuni dan menerima, buat saya adalah kegagalan saya menjadi orang beriman. Tapi semua usaha itu terasa seperti memakai topeng dan menyakiti diri sendiri.

Hati terdalam masih mengharapkan permintaan maaf dari sang kawan, permintaan maaf sungguh-sungguh. Juga ekspektasi bagaimana sang kawan harus memperlakukan saya, setelah dia mengecewakan saya. Paragraf ini isinya pamrih.

Ajaran baik, dan kepamrihan sisi manusia. Tidak ada buku teori yang menjelaskan algoritma terbaik untuk mendapatkan keuntungan paling efektif dari kedua hal tersebut. Bukan buku, tapi whatsapp dengan Mama dan sahabat terbaik yang mengerti saya atas-bawa-depan-belakang. 



Marah dan kecewa adalah hal manusiawi. Mengampuni dan menerima bukan seperti menyeduh teh dalam air panas. Apa yang melukai, akan membekas. Berapa lama? Mungkin seumur hidup. Tapi hidup saya bukan bergantung pada luka itu. Biarkan luka itu ada sebagai panduan langkah ke depan, bagaimana saya membawa diri. Dan hidup saya tidak berarti terganggu oleh kemarahan dan kecewaan. Anger management adalah hal yang dilatih dari hari ke hari. Belajar untuk tidak mengacuhkan hal yang menghambat, akhirnya akan membawa saya belajar untuk menjadi lebih dewasa dan lebih bahagia.

Pada akhirnya, keputusan saya untuk mengambil jarak, mengambil langkah ke jalan berbeda dengan sang kawan, bukan berarti saya gagal. Saya butuh berbenah sejenak, melihat semuanya jernih. Dengan begini, frekuensi si pita video terputar tak sengaja harusnya berkurang.




Tuesday, September 12, 2017

[Pengalaman] Satu Cara Penanggulangan Hari Buruk

Hari Buruk atau Bad Day mungkin sudah jadi bagian kehidupan manusia. Kalau saja ada kamus yang memuat semua terminologi berkaitan dengan hidup manusia, hari buruk pasti ada di sana.

Entah dikarenakan ketidaknyamanan, ke-apes-an, kesedihan, atau hal negatif lain yang besar, atau kecil tapi datang terus-menerus, apa pun itu, efek samping ini sepenuhnya ada di dalam kendali kita. Dalam arti, apakah kita mau terjerembab dan makin larut dalam pusaran ini, atau berdiri dan bilang, "Saya baik-baik saja."

Mengubah pikiran rumit menjadi kembali normal bukan pekerjaan membalikkan telapak tangan. Manusia biasanya terlalu cepat membuat jalinan satu keburukan untuk berkaitan dengan keburukan lainnya. "Tuh kan, hari ini emang bukan hari gua banget deh. Ketinggalan kereta, kerjaan gak beres, berantem sama temen."

Sebagai imigran di negara asing dan hidup di kota kecil, tidak banyak orang yang bisa saya ajak berbagi setiap saat. Bukan berarti saya tidak punya teman. Tapi kadang hanya berbagi hari buruk kepada mereka rasanya tidak adil, juga membuat mereka khawatir. Sebagai seorang engineer, problem solving adalah pekerjaan utama sehari-hari. Untuk mengatasi si hari buruk ini pun saya berusaha menemukan cara yang bisa saya lakukan untuk kembali normal.

Sederhana ternyata. Dari membaca buku, menonton video-video motivasi, saya menyadari kejahatan otak kita ternyata adalah membuat jalinan keburukan (telah saya ulas sedikit di atas). Ketika satu keburukan terjadi, mood kita rusak, dan apa pun yang terjadi adalah selalu buruk sesudahnya. Keburukan itu adalah otak kita yang terlalu cepat menganalisa, dan analisanya pun salah. Berusaha menenangkan diri juga sulit. Shopping? Jalan-jalan? Kalau kita ada waktu. Bagaimana kalau kita tetap harus melakukan rutinitas dengan kondisi ini...

Satu langkah demi satu langkah. Saya akan mulai menulis daftar pekerjaan yang masih harus saya selesaikan di hari itu. Pekerjaan ini pun dipecah menjadi langkah-langkah sekecil mungkin atau sub-tasks. Setiap satu sub-tasks terpenuhi, akan saya beri tanda hijau dengan stabilo atau emoticon smiley.

Setiap memenuhi satu perkerjaan kecil, saya kembali termotivasi. Ternyata tidak semuanya di hari yang sama berakhir buruk. Saya masih bisa membereskan hal-hal penting satu per satu, walaupun pelan dan kurang termotivasi dibandingkan dengan hari lain. Ketika hari pun siap ditutup dengan pergi ke tempat tidur, keburukan yang sebelumnya terjadi, tidak lagi jadi fokus pikiran saya. Satu keburukan bukan menjadi cap hari. Satu keburukan sebenarnya sama nilai dan porsinya dengan ketika satu kebaikan terjadi.

Tuesday, August 15, 2017

[Pengalaman] Saya Si Penggemar Coldplay

Sampai saya hampir berusia kepala '3', satu-satunya konser siaran langsung benar-benar mengubah hidup saya. Selasa, 6 Juni 2017, berbekal tiket menang nge-beat dari e-Bay, saya bisa nonton konser Coldplay di Munich. Konser ini memberi banyak pemebelajaran juga ternyata.

Dua minggu sebelum konser berlangsung, terjadi aksi teror di konser Ariana Grande di Manchester, Inggris. Berita itu saya baca dari pop-up majalah di smartphone tepat ketika saya bangun tidur. Sontak saya teringat konser Coldplay yang sudah saya nantikan semenjak dua bulan selanjutnya. "Hmmmm, apa jual lagi aja di e-Bay ya, gimana kalau ada apa-apa..."

Akhirnya saya memutuskan untuk "rehat"dari ketakutan itu, dan berusaha menghafal lirik lagu Doldplay terutama dari album terbaru mereka supaya nanti bisa nyanyi bareng. Dan anehnya, perasaan lain muncul lebih kuat, kegembiraan. Lagu Colplay yang judulnya "Yellow", saya dengar ketika mulut ini cuma bisa mengimitasi bahasa inggris supaya terdengar sama, dan terkesan hafal, tanpa saya mengerti artinya. Lagu "In My Place" saya tahu dari Kakak saya juga yang merupakan penggemar Coldplay--jaman itu CD mahal banget, tapi Kakak saya beli CD original Coldplay.

Hari itu pun tiba. Berhubung saya membeli tiket berdiri, saya dan teman rela mengantri dua jam sebelum gerbang dibuka untuk mendapat tempat yang sip. Tubuh saya tidak begitu tinggi dibanding orang-orang lokal yang datang. Untuk konser berikutnya, saya belajar untuk mempersiapkan tubuh yang fit dan sedikit lebih kekar. Didesak kiri, kanan, depan, belakang, cukup bikin sakit kepala.

Keamanan di sekitar konser, sangat amat super diperketat. Tidak ada tas diperbolehkan untuk dibawa ke dalam stadion. Dan untuk pergi ke tempat penitipan, saya harus mengantri panjang lagi... Terjadilah perpisahan dengan tas coklat kesayangan yang umurnya baru 1 tahun. Banyak penonton wanita meninggalkan tas di luar, seakan tas tak ada artinya dibanding Coldplay yang menunggu di dalam. Setiap orang yang masuk benar-benar diperiksa oleh polisi.

Ketika Chris Martin sang vokalis, berlari masuk ke area panggung dengan lagu dari album mereka "A Head Full of Dreams", mereka ternyata n.y.a.t.a. Bukan berlebihan, tapi seumur-umur bertemu dengan idola dari luar negeri hanya mimpi. Melihat video mereka di Youtube saja sangat menghibur hari-hari lelah saya, tapi mendengar live, dan melihat mereka jingkrak-jingkrak di panggung, itu w.o.w.

Coldplay - Every Teardrop is a Waterfall


Satu lagu yang paling mengena, dan selalu ada di semua playlist saya, "Yellow", adalah lagu yang paling saya hafal awal sampai akhir. Ketika lagu itu dimainkan, rasanya kebahagiaan yang gak bisa digantikan dengan menonton video mereka meskipun di layar TV raksasa. Rasa sakit kaki yang kena injak penonton di kiri kanan, dan kaki pegal karena berdiri berjam-jam, hilang semuanya.

Coldplay - Yellow

Dua jam Coldplay memainkan lagu tanpa stop, terasa seperti 10 menit. Ketika konser selesai, entah kenapa saya teringat kembali akan kejadian teror di Konser Ariana Grande. Setiap penonton yang datang, mungkin sama seperti saya, ingin bertemu dengan idola mereka. Dan ketika suatu kejadian yang tidak diinginkan terjadi, akan membuat orang mungkin ragu atau berpikir untuk pergi menikmati konser seperti ini. Bukankah ini definisi baru penjara karena rasa takut? Penjara yang sebenarnya abstrak. Berhati-hati itu sangat perlu, tapi terpenjara rasa takut, saya rasa tidak. Rasa bahagia saya melihat band idola di atas panggung, meloncat dan bernyanyi bersama ribuan penonton yang lain, adalah pengalaman hidup yang benar-benar mengubah saya. Selama ada kesempatan, lakukanlah. Selama ada waktu, cobalah.


Selingan istirahat,
Freising, 15 Agustus 2017

[Pengalaman] Langkah Selanjutnya

Aneh rasanya ketika satu pengalaman memberikan dampak yang begitu besar terhadap diri saya. Otak saya sebagai insinyur yang terlatih untuk...