Tuesday, September 12, 2017

[Experience] Satu Cara Penanggulangan Hari Buruk

Hari Buruk atau Bad Day mungkin sudah jadi bagian kehidupan manusia. Kalau saja ada kamus yang memuat semua terminologi berkaitan dengan hidup manusia, hari buruk pasti ada di sana.

Entah dikarenakan ketidaknyamanan, ke-apes-an, kesedihan, atau hal negatif lain yang besar, atau kecil tapi datang terus-menerus, apa pun itu, efek samping ini sepenuhnya ada di dalam kendali kita. Dalam arti, apakah kita mau terjerembab dan makin larut dalam pusaran ini, atau berdiri dan bilang, "Saya baik-baik saja."

Mengubah pikiran rumit menjadi kembali normal bukan pekerjaan membalikkan telapak tangan. Manusia biasanya terlalu cepat membuat jalinan satu keburukan untuk berkaitan dengan keburukan lainnya. "Tuh kan, hari ini emang bukan hari gua banget deh. Ketinggalan kereta, kerjaan gak beres, berantem sama temen."

Sebagai imigran di negara asing dan hidup di kota kecil, tidak banyak orang yang bisa saya ajak berbagi setiap saat. Bukan berarti saya tidak punya teman. Tapi kadang hanya berbagi hari buruk kepada mereka rasanya tidak adil, juga membuat mereka khawatir. Sebagai seorang engineer, problem solving adalah pekerjaan utama sehari-hari. Untuk mengatasi si hari buruk ini pun saya berusaha menemukan cara yang bisa saya lakukan untuk kembali normal.

Sederhana ternyata. Dari membaca buku, menonton video-video motivasi, saya menyadari kejahatan otak kita ternyata adalah membuat jalinan keburukan (telah saya ulas sedikit di atas). Ketika satu keburukan terjadi, mood kita rusak, dan apa pun yang terjadi adalah selalu buruk sesudahnya. Keburukan itu adalah otak kita yang terlalu cepat menganalisa, dan analisanya pun salah. Berusaha menenangkan diri juga sulit. Shopping? Jalan-jalan? Kalau kita ada waktu. Bagaimana kalau kita tetap harus melakukan rutinitas dengan kondisi ini...

Satu langkah demi satu langkah. Saya akan mulai menulis daftar pekerjaan yang masih harus saya selesaikan di hari itu. Pekerjaan ini pun dipecah menjadi langkah-langkah sekecil mungkin atau sub-tasks. Setiap satu sub-tasks terpenuhi, akan saya beri tanda hijau dengan stabilo atau emoticon smiley.

Setiap memenuhi satu perkerjaan kecil, saya kembali termotivasi. Ternyata tidak semuanya di hari yang sama berakhir buruk. Saya masih bisa membereskan hal-hal penting satu per satu, walaupun pelan dan kurang termotivasi dibandingkan dengan hari lain. Ketika hari pun siap ditutup dengan pergi ke tempat tidur, keburukan yang sebelumnya terjadi, tidak lagi jadi fokus pikiran saya. Satu keburukan bukan menjadi cap hari. Satu keburukan sebenarnya sama nilai dan porsinya dengan ketika satu kebaikan terjadi.

Tuesday, August 15, 2017

[Experience] Saya Si Penggemar Coldplay

Sampai saya hampir berusia kepala '3', satu-satunya konser siaran langsung benar-benar mengubah hidup saya. Selasa, 6 Juni 2017, berbekal tiket menang nge-beat dari e-Bay, saya bisa nonton konser Coldplay di Munich. Konser ini memberi banyak pemebelajaran juga ternyata.

Dua minggu sebelum konser berlangsung, terjadi aksi teror di konser Ariana Grande di Manchester, Inggris. Berita itu saya baca dari pop-up majalah di smartphone tepat ketika saya bangun tidur. Sontak saya teringat konser Coldplay yang sudah saya nantikan semenjak dua bulan selanjutnya. "Hmmmm, apa jual lagi aja di e-Bay ya, gimana kalau ada apa-apa..."

Akhirnya saya memutuskan untuk "rehat"dari ketakutan itu, dan berusaha menghafal lirik lagu Doldplay terutama dari album terbaru mereka supaya nanti bisa nyanyi bareng. Dan anehnya, perasaan lain muncul lebih kuat, kegembiraan. Lagu Colplay yang judulnya "Yellow", saya dengar ketika mulut ini cuma bisa mengimitasi bahasa inggris supaya terdengar sama, dan terkesan hafal, tanpa saya mengerti artinya. Lagu "In My Place" saya tahu dari Kakak saya juga yang merupakan penggemar Coldplay--jaman itu CD mahal banget, tapi Kakak saya beli CD original Coldplay.

Hari itu pun tiba. Berhubung saya membeli tiket berdiri, saya dan teman rela mengantri dua jam sebelum gerbang dibuka untuk mendapat tempat yang sip. Tubuh saya tidak begitu tinggi dibanding orang-orang lokal yang datang. Untuk konser berikutnya, saya belajar untuk mempersiapkan tubuh yang fit dan sedikit lebih kekar. Didesak kiri, kanan, depan, belakang, cukup bikin sakit kepala.

Keamanan di sekitar konser, sangat amat super diperketat. Tidak ada tas diperbolehkan untuk dibawa ke dalam stadion. Dan untuk pergi ke tempat penitipan, saya harus mengantri panjang lagi... Terjadilah perpisahan dengan tas coklat kesayangan yang umurnya baru 1 tahun. Banyak penonton wanita meninggalkan tas di luar, seakan tas tak ada artinya dibanding Coldplay yang menunggu di dalam. Setiap orang yang masuk benar-benar diperiksa oleh polisi.

Ketika Chris Martin sang vokalis, berlari masuk ke area panggung dengan lagu dari album mereka "A Head Full of Dreams", mereka ternyata n.y.a.t.a. Bukan berlebihan, tapi seumur-umur bertemu dengan idola dari luar negeri hanya mimpi. Melihat video mereka di Youtube saja sangat menghibur hari-hari lelah saya, tapi mendengar live, dan melihat mereka jingkrak-jingkrak di panggung, itu w.o.w.

Coldplay - Every Teardrop is a Waterfall


Satu lagu yang paling mengena, dan selalu ada di semua playlist saya, "Yellow", adalah lagu yang paling saya hafal awal sampai akhir. Ketika lagu itu dimainkan, rasanya kebahagiaan yang gak bisa digantikan dengan menonton video mereka meskipun di layar TV raksasa. Rasa sakit kaki yang kena injak penonton di kiri kanan, dan kaki pegal karena berdiri berjam-jam, hilang semuanya.

Coldplay - Yellow

Dua jam Coldplay memainkan lagu tanpa stop, terasa seperti 10 menit. Ketika konser selesai, entah kenapa saya teringat kembali akan kejadian teror di Konser Ariana Grande. Setiap penonton yang datang, mungkin sama seperti saya, ingin bertemu dengan idola mereka. Dan ketika suatu kejadian yang tidak diinginkan terjadi, akan membuat orang mungkin ragu atau berpikir untuk pergi menikmati konser seperti ini. Bukankah ini definisi baru penjara karena rasa takut? Penjara yang sebenarnya abstrak. Berhati-hati itu sangat perlu, tapi terpenjara rasa takut, saya rasa tidak. Rasa bahagia saya melihat band idola di atas panggung, meloncat dan bernyanyi bersama ribuan penonton yang lain, adalah pengalaman hidup yang benar-benar mengubah saya. Selama ada kesempatan, lakukanlah. Selama ada waktu, cobalah.


Selingan istirahat,
Freising, 15 Agustus 2017

Monday, August 14, 2017

[Prosa] Tenaga dan Rasa

Jari jemariku kaku sudah tak sanggup menghasilkan baris di layar monitor. Mataku kaku menatap barisan bahasa mesin yang menantangku dengan keangkuhan dan kerumitan mereka. Otakku mulai putus asa akan rentang waktu yang habis tanpa memiliki hasil nyata.

Memori dan rasa tapi tidak padam. Segelintir dari mereka mengetuk hatiku. Tengok lah ke belakang untuk kali ini saja. Jauh perjalanan yang sudah engkau tempuh. Untuk apa takut. Untuk apa engkau diam berpasrah. Teka-teki raksasa ini tak untuk sekali jadi dipecahkan. Hidup adalah pembelajaran tak henti yang butuh rasa dan tenagamu. Tenaga untuk tekun, rasa untuk bahagia.

Seminggu kerumitan mengimplementasikan Ethernet, 14 Agustus 2017

[Prosa] Komparasi Satu Sosok dan Lirik Lagu

Sosok itu datang dan sudah pergi juga. Ketika itu keberadaannya bersamaan dengan sebuah lagu yang hampir selalu kudengarkan setiap hari. Lirik indahnya adalah selalu kubuat komparasi dengab angan polos. Ya, ketika sosok itu pergi, luluh lantah hati teriris tak sanggup dengarkan liriknya lagi. Hasil komparasi yang mutlak salah dan tak bernilai.

Waktu... ya waktu yang akhirnya mengajarkan arti bahwa lirik itu hanyalah lirik. Hari ini aku bisa tersenyum mendengarkan lirik itu. Tersenyum, karena aku baik-baik saja dan juga membaik.

Wednesday, July 19, 2017

[Prosa] Tanggapan

Ketika engkau kecewa, kau nyata punya dua pilihan, pergi tinggalkan, atau tetap di tempat. Tetap di tempat punya banyak posibilitas lainnya. Apakah kau berdiam dan marah menampar kekecewaan itu, kau berdiam tanpa ekpresi yang kata orang "nerimo", atau kau berubah, beradaptasi.

Dulu, "pergi tinggalkan" jadi pilihan absolutku. Untuk apa investasi tenaga dan rasa untuk hal yang mengecewakan. Rasa kecewa itu sama dengan rasa lainnya, akan luntur seiring dengan waktu. Ketika warnanya pudar dan hariku berjalan biasa lagi, kalimat tanya ini sering datang tanpa diundang, "Kalau waktu itu tak pergi tinggalkan... Apa jadinya aku hari ini..."Kalimat tanya permanen karena tak pernah kutemukan jawabnya.

Kucoba jalan berikutnya. Diam, marah, dan menampar kekecewaan itu. Orang menertawakanku. "Manusia penuh drama" katanya. Mereka tak sadar, dalam badan ini hanya jiwa kecil merungkut yang aku punya di tengah kekisruhan dunia. Air mata bukan tanda aku menyerah. Marah bukan tanda aku menyangkal. Aku punya batas untuk lelah.

Tanpa ekspresi kuhadapi bab baru cerita kecewa. Hatiku masih perih. Jarum detik jam berdetak dan perih ini seolah diusiknya terus menerus. "Ganjel" kalau kata orang. Diam itu emas? Iya kah? Diam itu pucat kesi. Tak ada arti akhirnya.

Merasa kecewa itu menguras tenaga sampai ke sum-sum. Lelah otak bisa kusembuhkan dengan tidur lebih panjang. Tapi jinakan kecewa butuh si variabel waktu yang tak ada eksaknya. Masakan tak ada variabel lain untuk netralisasi? Tak lari, tak diam, aku mulai dengan dongakan kepala. Postur tubuh baik ini bantu aku bisa berpikir logis lagi. Tak ada yang tahu keluh kesah usaha ini berbuah atau tidak. Tapi aku mau bilang dengan hasil perbuatanku saja. Tak perlu ada kalimat, tak perlu ada pengakuan. Aku butuh ini, untuk menghargai hati nuraniku sendiri. Makan waktu tak tentu, makan tenaga tak terkira karena ditambah bumbu kecewa. Ada batas lelah baru yang aku pasang.

Aku percaya teori ini buat hidupku lebih berarti, ubah kecewa jadi alat untuk mengukur ketekunan. Ketika batas itu terlampui, entah akan aku pergi tinggalkan, atau kutempuh lanjut jalan itu. Tapi aku buat cerita utuh. Tak akan ada kalimat tanya permanen.

Friday, June 30, 2017

[Prosa] Kata untuk Sahabat

Hai Teman , andai saja bisa kuambil sedikit khawatir dalam hatimu. Tak seluruh khawatir itu kau tuang dalam ruang bicara kita, tapi kutahu itu ada dalam parasmu.
Hai Teman , andai saja bisa kutepuk pundakmu dan bilang , "ceritamu akan baik adanya." Tapi sudah terlalu picisan dalam kurun waktu ini.
Hai Teman , andai saja masih ada cukup waktu untukku memperbaiki waktu yang salah dan hilang di mana kubuat dirimu kecewa. Tapi semua diburu-buru realita bahwa kau harus beranjak ke tempat yang baru.

Hai Teman , andai masih bisa aku untuk bersikap egois dan mementingkan perasaan sendiri, aku sedih kau harus pindah segera ke ruang yang berbeda. Zona waktu pun akan jadi pagar tinggi membatasi kelancaran kita berkomunikasi.
Hai Teman, masih banyak maaf dan syukur yang harus kuungkap untukmu. Tapi ini terlalu dramatik dan kekanakan.

Hujan siang ini mengendapkan panas dan kelumit hati memikirikanmu di sana. Melihat tumpahan pikiranmu di media sosial buatku merasa kecil dan tak mampu berbuat apa-apa.

Temanku, anggaplah ruang dan waktu adalah dekorasi. Kau dan aku akan di tempat dengan hiasan berbeda , tapi kau dan aku adalah kau dan aku yang sama semenjak bertemu tiga tahun yang lalu. Seperti hal yang mengikat kau dan aku dalam jalin persahabatan ini, kita selalu punya kacamata beda dalam menilai arti hidup. Dan hal itu yang akan kita terus lakukan.

Salam sayang sahabat sehabis hujan,
Bekasi 30 Juni 2017
Vava

Monday, June 12, 2017

[Prosa] Langkah yang Berbicara

Tak mudah hidup merantau. Keterbatasan bahasa sudah biasa jadi kendala. Tak jarang dahi berkerut berusaha mencerna makna diskusi. Jari-jemari berusaha merangkum cepat pembahasan, mengolah suara yang ditangkap telinga untuk jadi tampak di layar kaca. Kali ini tak usah kupikirkan dl apa maknanya. Semua kurekam dalam tulisan dan akan kubaca ulang di rumah.

Hari-hari terasa mengasingkan aku jadi si perantau di tanah penduduk lokal. Rupaku jelas bedanya. Rambut hitam, tubuh paling mungil—dan pendek, bicaraku masih berlogatkan dialek daerah kampung halaman.

Hal yang baru tersebut adalah lahiriah, tapi secara profesi, pekerjaanku setara dengan mereka. Tanggung jawab kami tidak dibedakan. Setiap orang mendapatkan porsinya masing-masing untuk berkembang. Bahasa kerja kami jadi universal. Semuanya untuk memperbaiki kehidupan orang banyak. Langsung atau tidak langsung tak sepenuhnya aku mengerti. Tapi realisasi tanggung jawab ini yang penting.

Kalau pahlawan mengemban tugas negara di medan perang, aku hanya mengemban projek pemrograman. Urusannya ada sintaksis bahasa komputer dan bilangan biner. Komponen semikonduktor tergeletak memenuhi meja kerja. Kadang, hanya dengan memandangnya saja, pikiran ini kembali ke sepuluh tahun lalu ketika aku baru berkenalan dengan mereka. Terlintas kelas kuliah saat Pak Dosen menuliskan banyak angka 1 dan 0, membawaku melupakan angka 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 dan 9. Representasi dua angka yang membuatku takjub dan kemudian jatuh cinta akan benda hitam kecil dengan banyak kaki. Laba-laba hitam, aku memberikan julukan mereka waktu dulu.

Lamunan itu terhentak ketika kulihat diriku saat ini duduk dalam bilik 3x3 meter yang dibatasi tembok biru. Wajah-wajah dalam foto kecil yang tergantung di ujung bilik menatapku dengan tersenyum. Detak jantungku berdegup kencang beberapa ketukan. Papa Mama berpesan aku harus semangat.


Dua tahun berlalu di bilik biru ini. Rasa berbeda itu masih melekat, karena fisiklah yang nampak, dan logatlah yang terdengar. Aku belum tahu realisasi nyata untuk masa depanku. Saat ini kubiarkan waktu menuntun langkahku, supaya aku dapat menyerap ilmu dan membentuk diri dahulu. 

[Experience] Satu Cara Penanggulangan Hari Buruk

Hari Buruk atau Bad Day mungkin sudah jadi bagian kehidupan manusia. Kalau saja ada kamus yang memuat semua terminologi berkaitan dengan hid...