Wednesday, July 4, 2018

[Pengalaman] Langkah Selanjutnya


Aneh rasanya ketika satu pengalaman memberikan dampak yang begitu besar terhadap diri saya. Otak saya sebagai insinyur yang terlatih untuk menelaah suatu masalah sampai ke jeroannya, dan berusaha memahami apa duduk perkaranya, dan mengapa ketika waktu sudah berjalan hampir satu setengah tahun, saya masih belum seratus persen menemukan jawaban.



Berpuluh-puluh macam motivasi dari video, buku, atau hanya sekedar quotes di Instagram, YouTube, Facebook, saya cari setiap harinya untuk membantu saya merasa lebih baik. Intinya satu: saya ingin bisa menerima apa yang terjadi dan menjalani hidup saya ke depannya tanpa melihat ke belakang dan terbebani oleh kepahitan itu. Sayangnya... ya, satu setengah tahun, dan saya masih ada di posisi yang sama. Posisi di mana saya masih merasa sangat kecewa. Sebentar, ada sih perubahannya, tahun lalu saya menangisi semuanya dan menyalahkan diri saya sendiri. Tapi sekarang ini saya tidak lagi menangis, melainkan marah dan menyalahkan orang lain. Ya, ada perubahaan, tapi itu pun bukan sesuatu yang baik.

Akhirnya saya menyikapinya dengan memutuskan kontak dengan orang yang saya dakwa bersalah, juga semua orang yang berhubungan dengannya. Bukan berarti saya ingin jadi manusia asosial. Sederhana saja, berkomunikasi dengan orang yang secara tidak langsung mengingatkan saya dengan terdakwa, membuat emosi saya meluap-luap.

Apakah ini terdengar gila atau tidak normal? Jangan ragu untuk menjawab, ya, karena saya pun kerap kali berpikir demikian. Mengapa kejadian ini begitu membuat saya terpuruk dan berhasil mengubah saya menjadi pribadi yang begitu berbeda? Mengapa kejadian ini sukses memporak-porandakan impian yang saya punya dan nilai-nilai yang dulu saya percaya? Apakah ini karena terdakwa berhasil memanipulasi saya dan saya terlalu lemah untuk menangkalnya?

Atau... karena kami terlalu berbeda, datang dari dua dunia berbeda dan gagal untuk berkompromi. Sayangnya, saya terlalu memeras tenaga dan perasaan untuk berkompromi dengan hubungan itu. Sayang selanjutnya, tak ada timbal balik. Hubungan adalah komunikasi dua arah oleh dua pelaku. Hipotesa saya ketika itu, komunikasi baik dari satu arah akan mengubah hubungan jadi lebih baik. Sayangnya lagi, hipotesa ini salah. Total.


Untuk keluarga dan sahabat—keluarga yang tidak satu ibu dan satu ayah, terima kasih atas pelukan dan dukungan yang tidak pernah putus. Kalian selalu bilang, segala sesuatu terjadi karena suatu alasan. Kali ini spesialnya, banyak alasan. Alasan untuk saya bertumbuh. Untuk  "sahabat" lainnya, terima kasih untuk bilang, "cukup sudah keluh kesahmu, terima dan move on. " Kata-kata itu buat saya mengerti kadang ada orang yang tidak mencoba untuk menempatkan diri di posisi lawan bicaranya yang sedang butuh telinga.

Satu paragraf penutup: dari berpuluh-puluh video dan cerita inspiratif yang saya lalui selama stu setengah tahun ini, saya belajar bahwa orang sukses—bukan hanya untuk dapat jabatan, tapi untuk mengatasi kekelaman hidupnya, adalah orang yang berani mengakui bahwa dirinya gagal dan kecewa. Bahwa juga dirinya marah dan tidak menerima keadaan. Saya mencoba mengikuti jalan itu. Mungkin ini jadi langkah awal untuk berubah dan beranjak dari posisi yang sama setelah satu setengah tahun.







No comments:

Post a Comment

[Pengalaman] Langkah Selanjutnya

Aneh rasanya ketika satu pengalaman memberikan dampak yang begitu besar terhadap diri saya. Otak saya sebagai insinyur yang terlatih untuk...