Monday, February 5, 2018

[Pengalaman] Refleksi 2017

Membuat rencana liburan atau proyek kerja beda halnya dengan membuat perubahan dalam diri. Perubahan yang contohnya adalah mengubah rasa marah jadi pernyataan maaf yang tulus; mengubah rencana dalam otak jadi tindakan nyata; mengubah rasa kecewa jadi menerima dengan lapang dada; mengubah rasa iri menjadi rasa syukur atas apa yang aku miliki; dan yang paling besar dampaknya adalah menerima bahwa kenyataan tidak selalu sesuai mimpi dan apa yang direncanakan.

Parahnya, semua rasa negatif ini dengan mudah menguasai hidupku lahir dan batin. Persepsi bahwa hidup tidaklah adil, bahwa hidup ini terlalu sulit untuk dijalani, bahwa hidup memilih untuk mencintai beberapa orang, dan membenci beberapa orang lain. Dan aku termasuk orang yang dibencinya. Negativisme ini berhasil menjajah seluruh sel di tubuh.

Lantas... apa yang harus aku lakukan untuk sedikit demi sedikit menghapus negativisme ini? Aku sadar, menghilangkannya dalam semalam adalah mustahil. Apa iya semua pikiran buruk ini muncul dari diriku sendiri? Apa pribadiku aku memburuk di dalam, sehingga tak ada lagi hal baik yang bisa muncul dari dalam? Logikanya, kalau semua dari dalam baik, tak peduli hal buruk apa yang terjadi di luar. Hal yang baik bisa menangkal apapun yang buruk.

Beratus-ratus quotes di social media, buku psikologi, video motivasi, konsultasi dengan orang-orang dewasa, membuatku mengerti: aku terluka.

"God create a clean heart for me and renew a steadfast spirit within me. - Psalm 51:10"

Salahkan orang lain saja? Ibarat orang berdiri, lalu ia terjatuh karena terdorong atau didorong orang lain, tak sepantasnya menimpalkan kesalahan padanya. Kenapa aku tak berdiri dengan kaki lebih kuat menjejak tanah; kenapa tak aku tangkis dorongannya ketika dorongan itu datang; kenapa aku biarkan zona amanku terancam...

Protect yourself bukan hanya melindungi diri dari ancaman kejahatan atau pelecehan seksual. Lebih dari itu: lindungi diri supaya tidak tersakiti. Ketika aku tahu bahwa lingkungan hidupku sudah menjadi racun dan keburukan untuk hidupku, kenapa aku tetap di sana? 

"When you can't control what's happening, challenge yourself to control the way you respond to it. That is where your power is"

Nyatanya, aku adalah nakhoda kapal kehidupanku sendiri. Tetap mengarungi ombak tinggi menakutkan, menantang arah mata angin, atau kembali sejenak ke pantai untuk beristirahat.

"New experiences will present themselves when you change your way of thinking"

Keputusanku untuk berlayar ke arah manapun itu. Ketika aku sudah kelelahan karena aku berlayar mundur karena melawan arah angin, aku berdoa agar arah angin berubah mendorongku ke depan. Ketika ombam tinggi dan angin kencang hampir mengahancurkan si kapal, aku berdoa supaya semua menjadi tenang.

Lalu aku sadar, doaku tak selalu mendapat jawaban langsung. Sayangnya. Tuhan mendengar, aku tahu dan percaya itu. 

Ketika doaku belum terjawab, aku berusaha mengubah haluan; haluan yang sebenarnya tak sejalan lagi dengan kata hatiku yang paling dalam. Aku jadi mengerti apa yang orang bilang tentang: "Ikuti kata hati". Ketika pikiran dan perbuatan aku harus melawan kata hati, setiap saat, aku  tidak mempunyai lagi pengertian benar tentang "berusaha". Aku hiang keyakinan bahwa haluan ini akan kucapai; malah yakin bahwa haluan ini hanya akan membuat aku semakin tersesat, membuat aku makin buta akan apa mauku.

Akhirnya kuputuskan untuk menyerah pada ombak dan angin, kembali ke pantai. Aku butuh waktu dan tempat untuk mengolah semua yang terjadi. Bukan lari dan meninggalkan semua tak terselesaikan, tapi aku mau mengerti semuanya.

"Don't bury your head in the sand whe troubles surround, stand tall ans face the problem in the light of understanding."

Ketika aku kembali ke pantai, kapal dan juga fisik ini tak lagi sama seperti ketika aku mulai berlayar. Beberapa bagian kapal hancur. Masih bisa kuperbaiki. Tak lagi jadi sama seperti sedia kala. Tapi aku bisa memiliki bentuk kapal yang aku inginkan. Memang tak perlu sama. Sedikit banyak aku belajar apa yang bisa aku perkuat untuk perjalanan selanjutnya. Juga bekal apa yang harus aku bawa.

"You're gonna survive. Good things are gonna start to happen again. And one day, you may look back and even this will not be such a bad thing."

Semua ini adalah satu bab kehidupan yang harus  aku tempuh, dan harus aku selesaikan. Ada hal sangat baik pada akhirnya yang jadi hadiah terindah untukku: aku mengenal diriku sepenuhnya.

"If God answers your prayer, He is increasing your faith.
If He delays,He is increasing your patience.

If He does not answer your prayer, He is preparing the brst for you. - Mother Teresa"

No comments:

Post a Comment

[Pengalaman] Langkah Selanjutnya

Aneh rasanya ketika satu pengalaman memberikan dampak yang begitu besar terhadap diri saya. Otak saya sebagai insinyur yang terlatih untuk...