Thursday, December 14, 2017

[Tukar Pikiran] Mengikuti Intuisi

Pagi ini, senang sekali rasanya dapat sapaan dari adik kelas yang sudah lama sekali tidak bertemu lewat whatsapp. Dari sapaan, akhirnya berlanjut menjadi cerita mengenai keinginan sang adik pindah departemen di tempat dia bekerja saat ini. Keinginannya adalah menjadi seorang spesialisasi, bisa menjadi pusat informasi ketika kerabat kerja lain memiliki pertanyaan. Saya juga mau begitu, Dik.

Pikiran selanjutnya: kalau keinginan pindah itu karena pelarian, kapan bisa jadi spesialis? Perasaan iri ini apalagi, sangat mengganggu; melihat kerabat lain bisa jadi spesialis.

Tulisan ini bukan dengan header [Experience], tapi [Tukar Pikiran]. Karena saya sendiri sedang dalam proses mencari jalan, mencari tahu apa yang saya mau.

Obrolan singkat pagi ini terbawa selama bekerja hari ini. Saya sudah bekerja di tempat bekerja saat ini selama kurang lebih 2,5 tahun. Posisi saya diadakan oleh management karena mereka membutuhkan backup untuk membantu senior saya mengelola suatu product-ecosystem. Sedikit jualan  tentang pekerjaan saya: untuk bisa berkomunikasi dengan produk chip digital yang juga diproduksi oleh perusahaan, bukan hanya satu software produk yang digunakan oleh customer, tapi beberapa bisa beberapa macam software , juga ada beberapa perangkat hardware tambahan yang dibutuhkan. Sebelum saya bergabung, senior saya bekerja sendirian untuk mengelola semuanya. Setelah saya bergabung, porsi kerjaan yang sedemikian banyak dibagi kepada kami berdua.

Apakah benar-benar dibagi 50% - 50%? Setahun pertama saya bekerja di sana, saya merasa senior saya masih mengelola 100% dan tugas tambahan dia adalah memberikan saya tutorial. Kami duduk bersebelahan. Setiap ada kerabat kerja lain memiliki pertanyaan, mereka akan selalu berjalan menuju meja senior saya.

Suatu hari, senior saya ijin kerja karena sakit. Seorang kerabat kerja memiliki pertanyaan bersangkutan dengan masalah customer. Dan seperti biasa, kolega saya ini mencari senior saya. Akhirnya, saya, si pilihan kedua, adalah tujuannya. Keringat dingin mulai bercucuran. Biasanya walaupun saya harus melakukan suatu analisa masalah, senior saya ada di sana, sehingga saya punya tempat bertanya. Tapi tidak hari ini.

Dengan gugup, juga dengan kemampuan bahasa Jerman terbatas, saya berusaha mencatat setiap point yang dijelaskan. Setelah itu, dengan perasaan takut, saya mulai melakukan test dan berusaha menemukan apa penyebab masalahnya. 15 menit kemudian, saya tahu jawabannya. Segera saya berjalan menuju meja kerja kolega. Lagi, dengan bahasa Jerman terbatas bercampur Inggris (ditambah otak yang masih berpikir dalam bahasa Indonesia), saya menjelaskan analisa mengapa masalah itu ditemukan customer dan bagaimana solusinya.

Kolega saya tersenyum, "3 hari saya berusaha mencari tahu, dan expert ini menemukan dalam 15 menit."

Hari itu adalah dear-diary-moment. Hal kecil. Saya bilang itu berkat, blessing. Kalau saja masalahnya rumit dan saya sendiri tidak bisa menemukan solusinya, beda ceritanya, bukan? Karena itu saya bilang, itu berkat. Rejeki.

Setelah hari itu, apa saya benar-benar expert atau spesialis? Tidak. Masih ada hari di mana saya merasa gagal, karena mentok dengan analisa masalah berhari-hari. Masih ada hari di mana pekerjaan saya tidak sempurna atau malah salah, dan atasan menegur saya. Masih ada hari di mana saya benar-benar menangis karena pekerjaan terlambat untuk diselesaikan sehingga saya harus bekerja di akhir pekan, ujung-ujungnya saya merasa bodoh. Masih ada hari di mana saya bingung akan jadi apa saya, jika saya bertahan di tempat kerja ini lima tahun ke depan.

Ada satu istilah orang Jerman, vertraue / folge deinem bauchgefühl. Kalau diterjemahkan langsung ke bahasa Indonesia: percaya / ikutin rasa di perut. Bahasa Inggris:  trust follow your gut feeling.

Dalam hari terburuk dan tersulit sekalipun, selalu ada intuisi dalam diri saya yang menasehati saya, "Belum saatnya menyerah." atau "Jangan manja! Gitu aja nangis! Lanjutin kerjaannya!" Dan biasanya itu benar. Analisa ngawur saya: perut masih lah berhubungan sama otak, jadi gut feeling itu sebenarnya dipengaruhi juga oleh logika yang dihasilkan oleh otak.

Gut feeling yang saya punya saat ini: seorang spesialis sekalipun harus terus belajar dan terbuka dengan hal baru. Masih banyak yang bisa saya pelajari di sini, dan saya yakin saya bisa berkembang menjadi lebih baik lagi di tempat ini.

Kepada sang Adik, ini hanya tukar pikiran dari apa yang pernah saya alami. Proses mengikuti intuisi juga butuh kerja nyata, supaya kita melihat apa yang bisa kita lakukan, bagaimana kita mengembangkan kemampuan diri kita sendiri. Dan yang paling penting: jangan merendahkan kemampuan diri sendiri, beri kesempatan kepada diri kita untuk menghargai apa yang sudah kita capai.


No comments:

Post a Comment

[Pengalaman] Langkah Selanjutnya

Aneh rasanya ketika satu pengalaman memberikan dampak yang begitu besar terhadap diri saya. Otak saya sebagai insinyur yang terlatih untuk...