Monday, December 11, 2017

[Pengalaman] Marah dan Kecewa Bukan Kegagalan

Entah kultur, atau pengertian saya yang salah selama ini. Sebelum hari kemarin, saya selalu merasa kemarahan dan kekecewaan adalah hal yang harus dihindari untuk menjaga wibawa. Mengampuni semua kesalahan dan memberi pengertian kepada segala hal adalah sesuatu yang hebat. Tidak lagi hari ini. Pengalaman hari kemarin memberi pandangan baru untuk saya jujur kepada diri saya sendiri.

Adalah seorang kawan yang memang pernah sangat mengecewakan saya di masa lalu. Saya pun menganggap diri saya ini sudah melalui masa kegalauan, menangis tengah malam, sampai mata saya yang cukup sipit ini menjadi semakin sipit. Dan semenjak itu, saya berusaha untuk tetap menjalin komunikasi dengan sang kawan. Hal yang terjadi kemarin sebenarnya adalah suatu canda yang orang normal harusnya tertawa dibuatnya, bukan membentak dan berteriak seperti yang saya lakukan. Candaannya hanya ngeles mengerjai saya. Kembali lagi, orang normal hanya akan tertawa dan menggelengkan kepala.

Tapi saya membentaknya. Saya rasa tetangga di sebelah juga bisa mendengar bentakan saya. Kurang lebih isi bentakan saya adalah, "Kamu kenapa memperlakukan saya seperti ini? Ini keterlaluan!"

Telepon itu langsung ditutup. Mulut saya mengatup dan saya benar-benar diam seperti patung beberapa saat. "Gua kenapa ya?" hanya pertanyaan saya kepada diri sendiri, yang bisa saya ulang-ulang di dalam kepala. Pembicaraan di telepon itu diawali dengan hal-hal kasual yang dua orang berteman biasa membicarakan.

Memori di dalam kepala saya berubah menjadi pita video, dan berputar balik kepada beberapa waktu lalu. Anehnya, hanya peristiwa yang sedih dan mengecewakan yang diputar. Saya pikir ini salah. Saya beranjak mengambil buku harian. Tulisan-tulisan yang mendukung saya untuk semakin marah tampak seperti dipertebal atau dalam format bold.

Selama ini, semua kemarahan dan kekecewaan, selalu saya usahakan tersebut dalam doa. Mengampuni dan menerima adalah ajaran baik yang harus saya praktekan. Kegagalan untuk mengampuni dan menerima, buat saya adalah kegagalan saya menjadi orang beriman. Tapi semua usaha itu terasa seperti memakai topeng dan menyakiti diri sendiri.

Hati terdalam masih mengharapkan permintaan maaf dari sang kawan, permintaan maaf sungguh-sungguh. Juga ekspektasi bagaimana sang kawan harus memperlakukan saya, setelah dia mengecewakan saya. Paragraf ini isinya pamrih.

Ajaran baik, dan kepamrihan sisi manusia. Tidak ada buku teori yang menjelaskan algoritma terbaik untuk mendapatkan keuntungan paling efektif dari kedua hal tersebut. Bukan buku, tapi whatsapp dengan Mama dan sahabat terbaik yang mengerti saya atas-bawa-depan-belakang. 



Marah dan kecewa adalah hal manusiawi. Mengampuni dan menerima bukan seperti menyeduh teh dalam air panas. Apa yang melukai, akan membekas. Berapa lama? Mungkin seumur hidup. Tapi hidup saya bukan bergantung pada luka itu. Biarkan luka itu ada sebagai panduan langkah ke depan, bagaimana saya membawa diri. Dan hidup saya tidak berarti terganggu oleh kemarahan dan kecewaan. Anger management adalah hal yang dilatih dari hari ke hari. Belajar untuk tidak mengacuhkan hal yang menghambat, akhirnya akan membawa saya belajar untuk menjadi lebih dewasa dan lebih bahagia.

Pada akhirnya, keputusan saya untuk mengambil jarak, mengambil langkah ke jalan berbeda dengan sang kawan, bukan berarti saya gagal. Saya butuh berbenah sejenak, melihat semuanya jernih. Dengan begini, frekuensi si pita video terputar tak sengaja harusnya berkurang.




No comments:

Post a Comment

[Pengalaman] Langkah Selanjutnya

Aneh rasanya ketika satu pengalaman memberikan dampak yang begitu besar terhadap diri saya. Otak saya sebagai insinyur yang terlatih untuk...