Wednesday, July 19, 2017

[Prosa] Tanggapan

Ketika engkau kecewa, kau nyata punya dua pilihan, pergi tinggalkan, atau tetap di tempat. Tetap di tempat punya banyak posibilitas lainnya. Apakah kau berdiam dan marah menampar kekecewaan itu, kau berdiam tanpa ekpresi yang kata orang "nerimo", atau kau berubah, beradaptasi.

Dulu, "pergi tinggalkan" jadi pilihan absolutku. Untuk apa investasi tenaga dan rasa untuk hal yang mengecewakan. Rasa kecewa itu sama dengan rasa lainnya, akan luntur seiring dengan waktu. Ketika warnanya pudar dan hariku berjalan biasa lagi, kalimat tanya ini sering datang tanpa diundang, "Kalau waktu itu tak pergi tinggalkan... Apa jadinya aku hari ini..."Kalimat tanya permanen karena tak pernah kutemukan jawabnya.

Kucoba jalan berikutnya. Diam, marah, dan menampar kekecewaan itu. Orang menertawakanku. "Manusia penuh drama" katanya. Mereka tak sadar, dalam badan ini hanya jiwa kecil merungkut yang aku punya di tengah kekisruhan dunia. Air mata bukan tanda aku menyerah. Marah bukan tanda aku menyangkal. Aku punya batas untuk lelah.

Tanpa ekspresi kuhadapi bab baru cerita kecewa. Hatiku masih perih. Jarum detik jam berdetak dan perih ini seolah diusiknya terus menerus. "Ganjel" kalau kata orang. Diam itu emas? Iya kah? Diam itu pucat kesi. Tak ada arti akhirnya.

Merasa kecewa itu menguras tenaga sampai ke sum-sum. Lelah otak bisa kusembuhkan dengan tidur lebih panjang. Tapi jinakan kecewa butuh si variabel waktu yang tak ada eksaknya. Masakan tak ada variabel lain untuk netralisasi? Tak lari, tak diam, aku mulai dengan dongakan kepala. Postur tubuh baik ini bantu aku bisa berpikir logis lagi. Tak ada yang tahu keluh kesah usaha ini berbuah atau tidak. Tapi aku mau bilang dengan hasil perbuatanku saja. Tak perlu ada kalimat, tak perlu ada pengakuan. Aku butuh ini, untuk menghargai hati nuraniku sendiri. Makan waktu tak tentu, makan tenaga tak terkira karena ditambah bumbu kecewa. Ada batas lelah baru yang aku pasang.

Aku percaya teori ini buat hidupku lebih berarti, ubah kecewa jadi alat untuk mengukur ketekunan. Ketika batas itu terlampui, entah akan aku pergi tinggalkan, atau kutempuh lanjut jalan itu. Tapi aku buat cerita utuh. Tak akan ada kalimat tanya permanen.

No comments:

Post a Comment

[Pengalaman] Langkah Selanjutnya

Aneh rasanya ketika satu pengalaman memberikan dampak yang begitu besar terhadap diri saya. Otak saya sebagai insinyur yang terlatih untuk...