Monday, June 12, 2017

[Prosa] Langkah yang Berbicara

Tak mudah hidup merantau. Keterbatasan bahasa sudah biasa jadi kendala. Tak jarang dahi berkerut berusaha mencerna makna diskusi. Jari-jemari berusaha merangkum cepat pembahasan, mengolah suara yang ditangkap telinga untuk jadi tampak di layar kaca. Kali ini tak usah kupikirkan dl apa maknanya. Semua kurekam dalam tulisan dan akan kubaca ulang di rumah.

Hari-hari terasa mengasingkan aku jadi si perantau di tanah penduduk lokal. Rupaku jelas bedanya. Rambut hitam, tubuh paling mungil—dan pendek, bicaraku masih berlogatkan dialek daerah kampung halaman.

Hal yang baru tersebut adalah lahiriah, tapi secara profesi, pekerjaanku setara dengan mereka. Tanggung jawab kami tidak dibedakan. Setiap orang mendapatkan porsinya masing-masing untuk berkembang. Bahasa kerja kami jadi universal. Semuanya untuk memperbaiki kehidupan orang banyak. Langsung atau tidak langsung tak sepenuhnya aku mengerti. Tapi realisasi tanggung jawab ini yang penting.

Kalau pahlawan mengemban tugas negara di medan perang, aku hanya mengemban projek pemrograman. Urusannya ada sintaksis bahasa komputer dan bilangan biner. Komponen semikonduktor tergeletak memenuhi meja kerja. Kadang, hanya dengan memandangnya saja, pikiran ini kembali ke sepuluh tahun lalu ketika aku baru berkenalan dengan mereka. Terlintas kelas kuliah saat Pak Dosen menuliskan banyak angka 1 dan 0, membawaku melupakan angka 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 dan 9. Representasi dua angka yang membuatku takjub dan kemudian jatuh cinta akan benda hitam kecil dengan banyak kaki. Laba-laba hitam, aku memberikan julukan mereka waktu dulu.

Lamunan itu terhentak ketika kulihat diriku saat ini duduk dalam bilik 3x3 meter yang dibatasi tembok biru. Wajah-wajah dalam foto kecil yang tergantung di ujung bilik menatapku dengan tersenyum. Detak jantungku berdegup kencang beberapa ketukan. Papa Mama berpesan aku harus semangat.


Dua tahun berlalu di bilik biru ini. Rasa berbeda itu masih melekat, karena fisiklah yang nampak, dan logatlah yang terdengar. Aku belum tahu realisasi nyata untuk masa depanku. Saat ini kubiarkan waktu menuntun langkahku, supaya aku dapat menyerap ilmu dan membentuk diri dahulu. 

No comments:

Post a Comment

[Pengalaman] Langkah Selanjutnya

Aneh rasanya ketika satu pengalaman memberikan dampak yang begitu besar terhadap diri saya. Otak saya sebagai insinyur yang terlatih untuk...