Monday, May 29, 2017

[Prosa] Saatnya Diam di Tempat


Ternyata perang tersulit adalah perang terhadap kemarahanmu sendiri

Ternyata perkelahian paling intense adalah berkelahi dengan pikiranmu sendiri

Berjuta logika yang tak lagi nyata, karena telah teraduk dan tercampur dengan rasa kecewa buat kata menerima tidak lagi ada

Mereka menarik serat otakmu ke kiri dan ke kanan tanpa sinkronisasi yang jelas

Alhasil perkataan dan perbuatanmu menjadi tanpa pola lagi

Tak ada siratan hitam atau putih, kau sendiri tak tahu lagi apa warnanya

Ada saatnya kau harus melepas

Barisan penghambat untukmu lepaskan diri akan sigap menarik balik dan berkata ,"Tak mungkin ini akhirnya"

Tetesan peluh yang masih berbekas di selapis kain berusaha mengacaukan kesadaranmu lagi dengan berteriak, "kau sudah berusaha, bisa pasti kau raih si mimpi itu"

Lelah...

Terlalu banyak faktor eksternal seolah berbicara bahwa kau berkuasa atas inginmu

Terlalu banyak narasi picisan menghantui langkahmu untuk bertindak

Garis tipis batas ketidakwarasan dan impian pudar

Tapi definisi ketidakwarasanmu adalah ilusi

Coba sebentar, berhela nafas panjang, kau tengok ke belakang

Tak semua impianmu adalah sama dengan jalan akhir yang kau pijak

Tanpa kau sadari kau telah berbelok jauh dari perjalanan yang kau rencanakan sebelumnya

Benar bukan?

Di titik ini, kau sadar, untuk melangkah, penghambat itu adalah kompleksitas pikiranmu sendiri

Belum lagi ditambah perasaan yang berusaha memenangkan pertempuran dengan akal sehatmu

Coba sebentar, berhela nafas panjang

Saat ini mungkin tak perlu kau langkahkan kakimu dulu

Berdiamlah di tempat

Menarik jalinan kekusutan itu butuh kesabaran dan waktu

Membersihkan kekeruhan pandangan mata butuh hatimu bersih dahulu, juga waktu

Menarik benang merah butuh kejelian mata hati dan analisa pikiran yang jernih, juga waktu

Helalah nafasmu panjang

Cukup diam di tempat



No comments:

Post a Comment

[Pengalaman] Langkah Selanjutnya

Aneh rasanya ketika satu pengalaman memberikan dampak yang begitu besar terhadap diri saya. Otak saya sebagai insinyur yang terlatih untuk...