Tuesday, May 9, 2017

[Prosa] Paras dalam Perjalanan

Waktu itu aku masih mengenakan seragam putih dan rok merah. Dengan kaos kaki setengah lutut dan sepatu hitam, aku berangkat ke sekolah. Pelajaran berlangsung seperti biasa, Ibu Guru menuliskan catatan di papan, dan kami harus menyalinnya di buku catatan. Belum jam istirahat, serorang Ibu Kepala Sekolah masuk ke dalam kelas dan berbisik kepada Ibu Guru yang sedang mengajar. Tak lama, tak sampai satu menit, Ibu Kepala Sekolah keluar. Ibu Guru membalikkan badannya dan berkata, “Anak-anak, jam istirahat jajan di kantin dalam ya, tidak ada yang keluar.” Aku dan teman-teman tak punya prasangka apa-apa. Pelajaran dilanjutkan.

Istirahat berakhir, perutku kenyang setelah menyantap sekotak nasi dan semur daging yang disiapkan Mama. Pelajaran dilanjutkan, pelajaran kesenian, bernyanyi bersama. Favoritku. Di tengah lagu, datang guru lain bersama orang tua dari beberapa temanku yang wajahnya kukenal. Tante dan Oom menjemput temanku pulang. Selang beberapa menit kemudian, teman yang lain. Selang beberapa menit lagi, teman satunya lagi… dan belum pelajaran berakhir, setengah kelasku kosong. Tepat ketika jam pelajaran berganti, Papa datang. Aku membereskan buku ke dalam ransel Hello Kitty, dan berjalan keluar.

“Papa, kenapa kok jemputnya awal?”tanyaku ketika kami berjalan ke arah tempat parkir. “Ada demonstrasi di Gedung Sate siang ini. Nanti kalau keburu demonstrasi, kamu gak bias pulang.”
Sampai di rumah, Mama sibuk menelepon. Ternyata dia mencari kabar tentang kakak perempuanku yang paling besar. Kakak mau turun ke jalan. Aku sama sekali buta apa arti turun ke jalan. Lalu Papa berkomentar, selama kakakku membawa jaket almamater, harusnya tak apa. Apa pula itu jaket almamater.

Keesokan harinya Mama dan Papa mulai memasukkan barang-barang ke dalam mobil Kijang merah kami. Aku bingung. Beras dua karung, mie instant dua dus. Mama hanya bilang, ini buat berjaga kalau kami harus pergi dari rumah. Kabarnya ada demonstrasi lebih besar lagi. Gang rumah tempat kami tinggal tepat bersebrangan dengan Sekolah Angkatan Darat, orang-orang menyebutnya SESKOAD. Massa mau bergerak ke sana. Minggu melelahkan, banyak perbendaharaan kata baru yang terlalu rumit untuk anak kelas 3 SD.

Sekolah diliburkan. Ini bukan musim libur, tak ada juga tanggal merah di kalender. Hari ini Mama dan Papa mengantarku ke rumah kostan tempat tinggal teman kakak perempuanku. Rumah kostan itu letaknya di daerah Jalan Riau, daerah rindang yang sejuk. Rumah-rumah di sana homogen dan luas-luas. Ternyata itu tempat tinggal mantan prajurit-prajuit TNI. Aku dan satu kakakku yang lain, yang laki-laki diminta menunggu di sana. Mama menitipkan banyak makanan. Katanya lagi, ada demonstrasi. Lewat tengah hari, sebelum Magrib, Mama menjemput kami dan kembali pulang ke rumah.

Jaman itu belum ada social media. Mama sibuk menelepon ke sana kemari. Menanyakan kabar sanak saudara di Jakarta. Katanya di Jakarta kerusuhan. Kerusahan, apa itu. Di TV, orang-orang turun ke jalan, melempar batu, membakar rumah… itu kerusuhan. Muncul satu kata di barisan teks “Tiionghoa”. Tionghoa itu kata pengganti Cina. Aku adalah si Tionghoa. Aku adalah si Cina. Tak berapa lama, Papa bilang, Pak Haji mau menampung kami kalau ada apa-apa. Pak Haji itu adalah tetanggaku yang memakai peci, yang suka memanggilku “Eneng Fafa”. Setiap Lebaran, Pak Haji mengirim rantangan berisi opor, ketupat, sambel goreng kentang, dan kerupuk.

Tahun 1998 berlalu dan kami tetap dalam keadaan aman di Bandung. Tahun ini aku belajar bahwa aku ini si Tionghoa. Dan yang aku tahu banyak kaum Tionghoa jadi korban di Jakarta.

*******************
2007

Setelah dua bulan penuh keringat dan air mata dari satu event try-out ke event try-out lainnya, voilaaaa, kaki ini melangkah ke kampus Gajah. Kenapa Kampus Gajah? Waktu umurku masih 4 tahun, setiap hari Minggu, Papa selalu mengajakku ke area Taman Ganesha depan Kampus Gajah, dan memanggil Bapak dengan kudanya. Menaikkan aku ke atas kuda, dan Bapak itu akan mengajak kuda berlari mengitari Taman Ganesha. Kata Papa, kalau sudah besar aku bisa sekolah di situ.
Aku terkejut. Sedari taman kanak-kanak sampai SMA, aku sekolah di kompleks sekolah sama, yayasan sama. Sekolah Katolik. Di hari pertama orientasi, hati ini senang dan terkejut rasanya mendengar berbagai logat bahasa Indonesia. Dulu, di SMA, temanku sebatas dari dari Jawa Barat, paling jauh Jawa Tengah. Di Kampus kini, aku bertemu dengan teman dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali… nama pulau yang biasa kubaca di buku IPS. Aku sadar, Indonesia itu besaaaar. Kuucapkan doa dalam hati, “Terima kasih Tuhan, Kau berikan ku kesempatan kuliah di sini. Aku melihat miniatur Indonesia.”

Senangnya hati membuat diri ini bersemangat berkenalan ke sana kemari. Kujabat tangan teman baruku satu per satu sambil memperkenalkan diri. Sampai aku tersentak ketika salah satu teman tidak menjabat tanganku ketika aku mengajak berkenalan. Dia hanya tersenyum dan mengucapkan namanya. Ternyata.. bagi beberapa teman laki-laki, mereka tidak boleh menyentuh lawan jenis meskipun hanya sebatas bersalaman. Begitu pula sebaliknya. Aku belajar, ternyata berbeda agama dan budaya, punya cara berbeda. Aku tidak pernah mengenal jam sholat lima waktu dan terlalu memikirkan bulan puasa. Tapi di sini, kebanyakan teman-teman harus menjalankan sholat lima waktu dan juga berpuasa pada bulan Ramadhan. Orientasi dua minggu cukup bagiku untuk mengenal keberagaman agama dan budaya yang sebenarnya.

*******************
2012

Hari itu adalah salah satu hari musim gugur paling indah. Hari pertamaku mengikuti program studi master di Jerman. Kampusnya kecil. Kalau dulu di Kampus Gajah, satu angkatan ada 235 mahasiswa, kali ini cukup 18 orang saja. Dan internasional. Tak ada keterkejutan yang sangat. Dulu, 235 mahasiswa jauuuh lebih beragam dari 18 orang internasional di sini.

Professor mulai memanggil nama kami satu per satu. Ini untungnya kelas kecil, Profesor mau berkenalan dengan kami satu per satu, bahkan tak hanya nama. Juga sedikit latar belakang dari mana kami berasal.

“Fatmawati Santosa,” ujar Profesor. Aku mengangkat tangan. Dia kembali menunduk melihat daftar nama dan memandangku lagi. Dua kali. “Sorry, I didn’t expect that Chinese has this kind of name. Fatma is a popular name in Middle East.” Aku tersenyum, dan menjawab, “I am Indonesian, Professor. The name was given by my grandmother. And it is the name of our first lady.”

*******************
2017

18 jam perjalanan Munich Taipei… Sampaaaaaaaai. Bahagia dan cemas. Wajahku si Tionghoa tak bisa bercakap mandarin. Satu perasaan baru yang sama sekali tak pernah kurasakan sebelumnya. Tempat ini homogen. Semua orang bisa kusimpulkan satu rumpun. Dan aku adalah salah satu bagiannya. Memang ini daerah tempat nenek moyangku berasal.

Perjalanan pagi pertama adalah mengunjungi taman nasional Yanmingshan. Sekali waktu, aku dan teman Taiwan-ku yang menemaniku di sana, berpapasan dengan sebuah keluarga, dan sang Ibu menyapaku dan mengajak bercakap. Aku berdiri terdiam, tak satu katapun aku mengerti. Temanku datang menghampiri, dan mencoba menjelaskan kepada sang Ibu bahwa aku ini orang Indonesia, keturunan Tionghoa.

Hari ketiga, bertemulah dengan sahabat-sahabat dari temanku. Dua teman perempuan lain yang juga orang Taiwan. Setelah seharian penuh, di bawah udara terik dan lembab Tainan, kami akhirnya tiba di sebuah hostel tua cantik, di tengah kota. Dengan perut penuh oleh makan malam murah-meriah dan lezat, dan semilir angin malam, kami duduk di ruang tengah dan mulai berbincang. Mereka meminta aku bercerita tentang latar belakangku. Kurangkum perjalanan hidup 28 tahun, aku cemas mereka akan bosan mendengarnya. Betapa mereka ingin tahu, sejarah si muka Tionghoa di Indonesia.

Ganti giliran temanku bercerita. Temanku pernah kuliah di London. Kalimat pembukanya adalah bagaimana dia merasa takut untuk berada di tempat heterogen. Sementara dia melihat beberapa teman internasionalnya, salah satunya dari Indonesia, begitu nyaman untuk berbahasa Inggris dan hidup dalam kemajemukan. Entah kenapa ada sedikit air mata waktu itu, yang kutahan supaya tak mengalir keluar. Kilas balik masa orientasi di Kampus Gajah, dengan teriakan senior yang selalu diulang-ulang, “Mana solidaritasnya untuk teman-teman kalian! Kalian ini satu! Satu almamater!” Ya, temanku benar. Aku terbiasa untuk hidup di kawasan heterogen, bahkan di negaraku sendiri. Dan ternyata itu jadi bekal kekuatan batin ketika aku harus merantau.



Aku lahir dan tumbuh dalam kemajemukan. Sisi genetik adalah sesuatu yang hanya bisa kuterima saat aku dilahirkan. Namaku Fatmawati Santosa.

No comments:

Post a Comment

[Pengalaman] Langkah Selanjutnya

Aneh rasanya ketika satu pengalaman memberikan dampak yang begitu besar terhadap diri saya. Otak saya sebagai insinyur yang terlatih untuk...